Pages

Tuesday, November 27, 2018

Penggolongan Terumbu Karang

Sistematika Suku dan Marga


Karang termasuk salah satu dari keluarga besar biota laut yang mempunyai sengat atau lebih dikenal sebagai Cnidaria (cnida = jelatang). Keluarga besar ini misalnya hydroid, ubur-ubur, kipas laut, pentacula, karang lunak, dan anemon. Keluarga besar jelatang dalam sejarah evolusinya adalah biota-biota laut yang dapat meng-hasilkan kerangka kapur didalam jarin-gan tubuhnya. Dalam perkembangan terakhir yang dimaksud dengan cnidaria adalah biota-biota penghasil kapur saja.


Cnidaria yang memiliki skeleton (tulang) dalam tubuhnya adalah hydrozoa dan anthozoa.  Hydrozoa terdiri dari millepora dan Stylasterina. 

Millepora (mille = seribu, pora = lubang) atau yang lebih dikenal sebagai karang api. Stylasterina (Style paku, aster = bintang) yang biasanya kecil dan hidup di tempat yang tersembu-nyi di dinding gua dan bukan merupakan kelompok karang pembentuk terumbu. Sedangkan yang termasuk dalam kelom-pok anthozoa yang umum dikenal antara lain adalah Stolonifera, Ctenothecalia dan Scleractinia. Stolonifera (Stolon = cabang, fera = bersambungan) yang termasuk dalam kelompok ini adalah karang suling yang berwarna merah (Tubipora musica). Coenothecalia (Coeno = berbagi, theca = kotak) yang termasuk kelompok ini merupakan karang pembentuk terumbu yang terdiri dari satu jenis yaitu karang biru (Heliopora coerulea). Sedangkan Scleractinia (Sclera = keras, actinia = sinar) atau lebih dikenal dengan nama karang batu meliputi jenis-jenis karang pembentuk terumbu karang yang utama. Menurut Wells (1954) ordo Scleractinia yang ada di Indo-Pasifi k dibagi menjadi 5 subordo yang terdiri dari 16 suku dan 72 marga. Sedangkan menurut Veron (1993) karang yang ada di Indo-Pasifik ada sekitar 84 marga; Jumlah marga karang yang tersebar di dunia sekitar 119 marga.

Adapun pembagian Suku dan Marga dari terumbu karang, adalah sebagai berikut :

Suku
:
Acroporidae
Marga
:  Acropora


Anacropora


Astreopora


Montipora



Suku
:
Agariciidae
Marga
:  Coeloseris


Gardineroseris


Leptoseris


Pachyseris


Pavona



Suku
:
Astrocoeniidae
Marga
:  Madracis


Palauastrea


Stylocoeiniella



Suku
:
Caryophylliidae
Marga
:  Catalaphyllia


Euphyllia


Heterocyathus


Nemenzophyllia


Physogyra


Plerogyra
Suku
:
Dendrophylliidae
Marga
:  Dendrophyllia


Heterosammia


Tubastrea


Turbinaria



Suku
:
Faviidae
Marga
:  Australogyra


Barabattoia


Caulastrea


Cyphastrea


Diploastrea


Echinopora


Favia


Favites


Goniastrea


Leptastrea


Leptoria


Montastrea


Moseleya


Oulastrea


Oulophyllia


Platygyra


Plesiastrea
Suku
:
Fungiidae
Marga
:  Ctenactis


Cycloseris


Diaseris


Fungia
Halomitra
Heliofungia
Herpolitha
Lithophyllon
Podabacia
Polyphyllia
Sandalolitha
Zoopilus

Suku
:
Merulinidae
Marga
Boninastrea


Clavarina


Hydnophora


Merulina


Paraclavarina


Scapophyllia
Suku
:  Mussidae
Marga
:
Acanthastrea


Australomussa


Blastomussa


Cynarina


Lobophyllia


Scolymia


Symphyllia

Suku
:
Oculinidae
Marga
Archelia


Galaxea



Suku
:
Pectiniidae
Marga
Echinophyllia


Mycedium


Oxypora


Pectinia



Suku
:
Pocilloporidae
Marga
Pocillopora


Seriatopora


Stylophora



Suku
:
Poritidae
Marga
Alveopora


Goniopora


Porites



Suku
:
Siderastreidae
Marga
Coscinaraea


Psammocora


Pseudosiderastrea

Suku
:
Trachyphylliidae
Marga
:
Trachyphyllia


Wellsophyllia

Monday, November 26, 2018

TERBENTUKNYA TERUMBU KARANG

Proses





Terbentuknya terumbu karang merupakan suatu proses yang lama dan komplek. Pros-es terbentuknya terumbu karang dimulai dengan penempelan berbagai biota peng-hasil kapur pada substrat yang keras. Pem-bentuk utama terumbu karang adalah scler-actinian atau karang batu dimana sebagian besar dari karang tersebut hidup bersim-biose dengan algae bersel tunggal yang berada di dalam jaringan endodermnya. Algae bersel tunggal dengan ukuran mik-roskopis berwarna coklat disebut zooxan-thellae memerlukan cahaya matahari untuk berfotosintesa. Oleh karena itulah karang membutuhkan cahaya matahari untuk da-pat tumbuh dan berkembang dengan baik.Warna coklat dari algae ini mempengaruhi sebagian besar warna karang, sehingga hampir semua karang berwarna coklat walaupun sebenarnya karang juga mem-punyai pigmen sendiri. Beberapa karang tidak mempunyai algae di dalam jarin-gan tubuhnya oleh karenanya karang ini tumbuh dan berkembang di tempat dalam dan tidak tergantung oleh cahaya matahari. Sebagian besar warna karang ditentukan oleh pigmen yang dikandung zooxanthela.




Adanya perbedaan dasar dari kebutu-han akan cahaya matahari maka secara ekologi karang dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang tumbuh terbatas di daerah hangat dengan penyinaran yang cukup karena adanya symbion algae di dalam jaringan tubuhnya disebut karang hermatipik atau karang pembentuk terumbu karang. Kelompok kedua adalah karang yang tumbuh dan berkembang di tempat yang tak terbatas dan tidak mempunyai simbion disebut ahermatipik atau karang bukan pemben-tuk terumbu karang. Perbedaan antara karang hermatipik dan ahermatipik terle-tak pada kemampuan untuk membentuk terumbu di mana hermatipik tumbuh lebih cepat dan mendeposit kapur (CaCO3) jauh lebih cepat daripada karang ahermatipik.Karang pembentuk terumbu bersama algae kalkareus dan beberapa biota yang beraso-siasi di dalam komunitas terumbu menge-luarkan bahan keras. Bahan ini merupakan kerangka dan mineral atau material yang akan tetap tinggal di dalam jaringan sampai biota-biota tersebut mati. Scleractinian atau karang batu sebagai kerangka pembentuk terumbu, sedangkan algae kalkareus dan biota lain penghasil kapur berfungsi seba-gai penyemen atau penyatu kerangka dan material yang dibentuk oleh karang batu. Walaupun karang batu dan koralin algae sebagai pembentuk utama terumbu karang, berbagai biota yang hidup melekat di ter-umbu karang juga mempunyai andil sebagai penyumbang material. Beberapa biota yang menyumbang material ini adalah hydrozoa dari marga Millepora, Stylasterina, Helio-pora dan Tubipora. Biota yang juga sebagai penyumbang kerangka terumbu karang adalah Coenothecalia, Stolonifera, Foramin-ifera, Bryozoa, Moluska, Sponge, Kalkareus algae dan beberapa karang ahermatipik. Proses pelekatan, pembentukan kerangka, sementasi, gradasi, erosi dan akresi yang terjadi berulang-ulang dan terjadi dalam kurun waktu jutaan tahun akhirnya mem-bentuk terumbu karang. Tahapan proses pembentukan, lokasi tempat terbentuknya terumbu karang dan proses geologi serta adanya perubahan permukaan laut menyebabkan terjadinya bentuk-bentuk terumbu karang yang sekarang ada. Ada beberapa tipe terumbu karang menurut lokasi dan tahapan pembentukannya. Atol merupakan terumbu karang yang terbentuk dan berkembang akibat adanya proses ge-ologi. Terumbu karang berkembang di pulau vulkanik yang mengalami penenggelaman secara perlahan-lahan ke dasar laut. Ter-umbu karang yang pada awalnya berkem-bang sebagai karang tepi mengelilingi pulau secara perlahan-lahan tumbuh makin terpi-sah dari pulau yang pada akhirnya seluruh tanah tenggelam dan yang tinggal adalah terumbu karang berbentuk lingkaran seperti cincin yang mengelilingi goba dan disebut atol. Atol banyak dijumpai di Indonesia dan yang terbesar adalah Atol Taka Bonerate yang merupakan atol ketiga terbesar di dunia setelah Atol Kwajilein di Kepulauan Marshall dan Atol Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Terumbu karang yang terben-tuk di tepi suatu pulau atau benua disebut sebagai fringing reef atau terumbu karang tepi, sedangkan terumbu karang yang terbentuk dekat dengan lereng benua dan terpisah dari pulau oleh goba yang lebar dan dalam disebut sebagai barrier reef atau terumbu karang penghalang. Terumbu karang yang tumbuh dan berkembang di paparan benua atau pulau dan dalam proses tahapan pembentukannya belum mencapai permukaan laut maka disebut sebagai patch reef atau terumbu karang gosong. Di Indonesia sebagian besar tipe terumbu karang adalah karang tepi dan karang gosong serta karang penghalang.